Thursday, 30 April 2015

Puisi

Kebun Ibu

ibu mengunduh daun pisang
di kebun belakang rumah.
-muasal seluruh kenang jejak kaki-
bambu dua kali lipat tubuhmu menjulur angkasa
ujungnya sebilah pisau menancap di dadamu
memetik yang tua dan membiarkan yang muda
menyisir lirih daun dari gedebok
kau letakkan sampir di bagian dasar
atasnya yang sedikit robek
lalu melipatnya dengan kesabaran
jika sore tiba, ibu menjualnya
pada pembuat tempe atau
pedagang bubur dekat kali
dan kembali dengan selusin tempe
atau seplastik kerupuk legendar

Kutan, Januari 2014


Akad Senyuman

di atas meja, segelas teh bernafas deru
di kanannya lemper, kacang bawang dan
seiris roti gulung berdandan
dalam sebuah kotak
-- tempat bertemunya senyuman

adakah rasa yang tertahan
saat ikrar melangit dari kecipak lidah
adakah haru menetes pelan
merembes ke ujung jari hingga gemetar
saat mendoa yang diaminkan malaikat
juga pepohonan

lalu mata bersitatap merangkai mahligai
sebuah biduk yang mengikat rasa
tempat menanak hari menjadi musim
hingga menemu tiada, semoga.

Brosot, 9 Januari 2014


Rinai Omong Kosong

Sebab berabad aku merindui rinai
melebur di sudut matamu
mempertanyakan perihal kata dalam liurmu
tentang prioritas atas nama dalil
omong kosong apa?
ucapmu buih ditiup angin
sesumbar yang membakar tanpa tindakan

sampai detik ini aku masih sangsi
apa yang kaubilang tentang jalan sunyi
katamu itu jalan para wali menancapkan alif
dalam sanubari

entahlah....

Januari 2014

Warna

sekarang ini, orang-orang mulai memicing mata
pada warna-warni
lihatlah di sepanjang jalan besar hingga jalan pedesaan
pelangi merupa wajah menutupi hijau tetumbuhan

jangan heran bila sebentar lagi telingamu menjadi pengang
dengan janji yang diumbar menggaung semu abu-abu
kau pasti akan bimbang menimang

lalu datanglah seorang dengan selembar biru
menyakinkanmu pada wajah cuma satu
sorenya seorang yang lain dengan selembar merah
dengan wajah berbeda

selalu, kepala kami mual merasai pengulangan lima tahun sekali ini
: pada uap janji



No comments:

Post a Comment